Abu Muhammad bin Saleh

Ruling On Objecting To Some Of The Shar’i Rulings That Have Been Prescribed By Allaah

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:51 am

A man says that some of the shar’i rulings need to be re-examined and they need to be changed, because they are not appropriate to the current age, such as the male’s share of inheritance being equal to the share of two females. What is the shar’i ruling on those who say such things?.

Praise be to Allaah.

It must be understood that one of the basic principles of faith is referring to Allaah, may He be exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him) for judgement, submitting to their ruling and being content with it. Allaah says (interpretation of the meaning):

“(And) if you differ in anything amongst yourselves, refer it to Allaah and His Messenger (صلى الله عليه وسلم), if you believe in Allaah and in the Last Day. That is better and more suitable for final determination”

[al-Nisa’ 4:59].

“But no, by your Lord, they can have no Faith, until they make you (O Muhammad صلى الله عليه وسلم) judge in all disputes between them, and find in themselves no resistance against your decisions, and accept (them) with full submission”

[al-Nisa’ 4:65]

“Do they then seek the judgement of (the days of) Ignorance? And who is better in judgement than Allaah for a people who have firm Faith”

[al-Maa’idah 5:50]

Every ruling that goes against the ruling of Allaah is a ruling of ignorance (Jaahiliyyah). Allaah says (interpretation of the meaning):

“Is not Allaah the Best of judges?”

[al-Teen 95:8]

“The command (or the judgement) is for none but Allaah. He has commanded that you worship none but Him (i.e. His Monotheism); that is the (true) straight religion, but most men know not”

[Yoosuf 12:40]

Thus it is clear that refusing to refer for judgement to Allaah, may He be glorified and exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him), or rejecting their ruling, or believing that the ruling of someone else is better than their ruling, constitutes kufr (disbelief) and puts one beyond the pale of Islam.

Shaykh Ibn Baaz (may Allaah have mercy on him) said:

With regard to the rulings which Allaah has prescribed for His slaves and explained them in His Holy Book or on the lips of His trustworthy Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him), such as the rulings on inheritance, five prayers, zakaah, fasting and other things which Allaah has explained to His slaves and on which the ummah is unanimously agreed, no one has the right to object to them or to change them, because this is clear legislation that was decreed for the ummah at the time of the Prophet (blessings and peace of Allaah be upon him) and after him until the Hour begins. That includes giving the male more than the female [in inheritance] among children, sons’ children, siblings through both parents and siblings through the father, because Allaah has explained it in His Book and the Muslim scholars are unanimously agreed on that, so it is obligatory to act upon that out of conviction and faith. Anyone who says that what is better is something other than that is a kaafir, and similarly the one who says that it is permissible to go against that is to be regarded as a kaafir because he is objecting to the rulings of Allaah, may He be exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him) and to the consensus of the ummah. The authorities should ask him to repent if he is a Muslim; if he repents, all well and good, otherwise he is to be executed as a kaafir and an apostate from Islam, because the Prophet (blessings and peace of Allaah be upon him) said: “Whoever changes his religion, execute him.” We ask Allaah to keep us and all the Muslims safe and sound from misguiding turmoil and going against pure sharee’ah. End quote.

Majmoo’ Fataawa Ibn Baaz (4/415).

{http://islamqa.com/en/ref/118682}

Hukum Meyakini Bahwa Sebagian Syariat Islam Sudah Tidak Lagi Sesuai dengan Perkembangan Zaman

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:49 am

Soal:

Ada seorang pria yang mengatakan bahwa beberapa hukum syariat perlu di uji lagi dan dirubah karena sudah tidak lagi sesuai dengan zaman ini seperti bagian warisan seorang pria sama dengan bagian warisan dua orang wanita. Apa hukum terhadap orang yang berkata seperti ini?

 

Jawab:

Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala

Perlu dipahami bahwa salah satu prinsip dasar keimanan adalah berhukum kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam-, berserah diri terhadap hukum-hukum kedua-Nya serta ridha terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:

(فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا) النساء/59

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (59)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) النساء/65

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (65)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ) المائدة/50

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (50)

Maka seluruh hukum yang menyelisihi hukum Allah adalah hukum jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman:

(أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) التين/8

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (8)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(إِنْ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ) يوسف/40

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (40)

Dengan ini maka nampak bahwasannya menolak berhukum kepada Allah -Jalla Sya’nuhu- dan Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam-, atau menolak hukum kedua-Nya atau meyakini bahwasannya berhukum dengan hukum selain keduanya adalah lebih baik maka ini adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Syaikh Ibnu Bazz -rahimahullah- berkata:

“Hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah terhadap para hamba-Nya di dalam Al-Quran atau melalui lisan Rasul-Nya Al-Amin -shallallahu’alayhiwasallam- seperti hukum-hukum waris, shalat lia waktu, zakat, puasa dan yang semacam itu yang telah Allah jelaskan kepada para hamba-Nya dan umat telah bersepakat atasnya maka tidak boleh bagi seorang pun menolaknya dan tidak pula merubahnya karena pensyariatan telah ditetapkan kepada umat sejak di zaman Nabi -shallallahu’alayhiwasallam- dan setelahnya sampai hari kiamat. Diantara ketetapan tersebut adalah: pemberian waris kepada laki-laki lebih besar daripada wanita dalam hal waris di kalangan anak begitu juga dengan cucu dari anak laki-laki, saudara kandung laki-laki seayah-seibu dan saudara kandung laki-laki seayah, karena Allah telah menjelaskan di dalam kitab-Nya [Al-Quran-ed] juga kaum muslimin telah bersepakat diatasnya, maka yang wajib bagi kita adalah mengamalkannya, meyakini dan beriman kepadanya. Siapa saja yang mengklaim bahwasannya hukum yang menyelisihinya adalah lebih baik maka dia kafir dan begitu juga yang membolehkan untuk menyelisihi hukum islam maka dia juga kafir karena dia menolak hukum Allah dan Rasul-Nya juga menentang kesepakatan umat. Maka hendaknya para penguasa yang bersangkutan memintanya untuk bertaubat jika dia seorang muslim jika dia bertaubat maka itu bagus jika tidak mau bertaubat maka waib untuk membunuhnya karena dia telah kafir, murtad dari Islam karena Nabi -shallallahu’alayhiwasallam- telah bersabda: (من بدل دينه فاقتلوه)”Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia”. Kami memohon kepada Allah agar menjaga kami dan kaum muslimin seluruhnya dari kesesatan, fitnah-fitnah dan menyelisihi syariat yang suci”

{Majmu’ Al-Fatawa Ibni Baazz, 4:415}.

 

Diterjemahkan dari http://www.islamqa.com

Klik untuk membaca artikel bahasa Arabnya disini: KLIK

Klik untuk membaca artikel bahasa Inggrisnya disini: KLIK

 

حكم الاعتراض على الأحكام الشرعية التي شرعها الله

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:47 am

السؤال : رجل يقول : إن بعض الأحكام الشرعية تحتاج إلى إعادة نظر وأنها بحاجة إلى تعديل ، لكونها لا تناسب هذا العصر ، مثال ذلك الميراث للذكر مثل حظ الأنثيين . فما حكم الشرع في مثل من يقول هذا الكلام ؟

الجواب :
الحمد لله
يجب أن يعلم أن من أصول الإيمان التحاكم إلى الله تعالى ، ورسوله صلى الله عليه وسلم ، والتسليم لحكمهما ، والرضا به ، قال الله تعالى : (فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا) النساء/59 .
وقال تعالى : (فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) النساء/65 .
وقال تعالى : (أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ) المائدة/50 .
فكل حكم خالف حكم الله فهو حكم جاهلية ، وقال الله تعالى : (أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) التين/8.
وقال تعالى : (إِنْ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ) يوسف/40 .
وبهذا يظهر أن رفض التحاكم إلى الله جل شأنه وإلى الرسول صلى الله عليه وسلم ، أو رفض حكمهما ، أو اعتقاد أن حكم غيرهما أحسن من حكمهما ، كفر وخروج من الإسلام .
قال الشيخ ابن باز رحمه الله :
“الأحكام التي شرعها الله لعباده وبينها في كتابه الكريم ، أو على لسان رسوله الأمين عليه من ربه أفضل الصلاة والتسليم ، كأحكام المواريث والصلوات الخمس والزكاة والصيام ونحو ذلك مما أوضحه الله لعباده وأجمعت عليه الأمة ، ليس لأحد الاعتراض عليها ولا تغييرها ، لأنه تشريع محكم للأمة في زمان النبي صلى الله عليه وسلم ، وبعده إلى قيام الساعة ، ومن ذلك : تفضيل الذكر على الأنثى من الأولاد ، وأولاد البنين ، والإخوة للأبوين وللأب ، لأن الله سبحانه قد أوضحه في كتابه وأجمع عليه علماء المسلمين ، فالواجب العمل بذلك عن اعتقاد وإيمان ، ومن زعم أن الأصلح خلافه فهو كافر ، وهكذا من أجاز مخالفته يعتبر كافراً ؛ لأنه معترض على الله سبحانه وعلى رسوله صلى الله عليه وسلم وعلى إجماع الأمة ؛ وعلى ولي الأمر أن يستتيبه إن كان مسلماً ، فإن تاب وإلا وجب قتله كافراً مرتداً عن الإسلام ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : (من بدل دينه فاقتلوه) ، نسأل الله لنا ولجميع المسلين العافية من مضلات الفتن ومن مخالفة الشرع المطهر” انتهى .
“مجموع فتاوى ابن باز” (4/415) .

الإسلام سؤال وجواب {http://islamqa.com/ar/ref/118682}
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.