Abu Muhammad bin Saleh

Archive for 2011|Yearly archive page

Ruling On Objecting To Some Of The Shar’i Rulings That Have Been Prescribed By Allaah

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:51 am

A man says that some of the shar’i rulings need to be re-examined and they need to be changed, because they are not appropriate to the current age, such as the male’s share of inheritance being equal to the share of two females. What is the shar’i ruling on those who say such things?.

Praise be to Allaah.

It must be understood that one of the basic principles of faith is referring to Allaah, may He be exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him) for judgement, submitting to their ruling and being content with it. Allaah says (interpretation of the meaning):

“(And) if you differ in anything amongst yourselves, refer it to Allaah and His Messenger (صلى الله عليه وسلم), if you believe in Allaah and in the Last Day. That is better and more suitable for final determination”

[al-Nisa’ 4:59].

“But no, by your Lord, they can have no Faith, until they make you (O Muhammad صلى الله عليه وسلم) judge in all disputes between them, and find in themselves no resistance against your decisions, and accept (them) with full submission”

[al-Nisa’ 4:65]

“Do they then seek the judgement of (the days of) Ignorance? And who is better in judgement than Allaah for a people who have firm Faith”

[al-Maa’idah 5:50]

Every ruling that goes against the ruling of Allaah is a ruling of ignorance (Jaahiliyyah). Allaah says (interpretation of the meaning):

“Is not Allaah the Best of judges?”

[al-Teen 95:8]

“The command (or the judgement) is for none but Allaah. He has commanded that you worship none but Him (i.e. His Monotheism); that is the (true) straight religion, but most men know not”

[Yoosuf 12:40]

Thus it is clear that refusing to refer for judgement to Allaah, may He be glorified and exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him), or rejecting their ruling, or believing that the ruling of someone else is better than their ruling, constitutes kufr (disbelief) and puts one beyond the pale of Islam.

Shaykh Ibn Baaz (may Allaah have mercy on him) said:

With regard to the rulings which Allaah has prescribed for His slaves and explained them in His Holy Book or on the lips of His trustworthy Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him), such as the rulings on inheritance, five prayers, zakaah, fasting and other things which Allaah has explained to His slaves and on which the ummah is unanimously agreed, no one has the right to object to them or to change them, because this is clear legislation that was decreed for the ummah at the time of the Prophet (blessings and peace of Allaah be upon him) and after him until the Hour begins. That includes giving the male more than the female [in inheritance] among children, sons’ children, siblings through both parents and siblings through the father, because Allaah has explained it in His Book and the Muslim scholars are unanimously agreed on that, so it is obligatory to act upon that out of conviction and faith. Anyone who says that what is better is something other than that is a kaafir, and similarly the one who says that it is permissible to go against that is to be regarded as a kaafir because he is objecting to the rulings of Allaah, may He be exalted, and His Messenger (blessings and peace of Allaah be upon him) and to the consensus of the ummah. The authorities should ask him to repent if he is a Muslim; if he repents, all well and good, otherwise he is to be executed as a kaafir and an apostate from Islam, because the Prophet (blessings and peace of Allaah be upon him) said: “Whoever changes his religion, execute him.” We ask Allaah to keep us and all the Muslims safe and sound from misguiding turmoil and going against pure sharee’ah. End quote.

Majmoo’ Fataawa Ibn Baaz (4/415).

{http://islamqa.com/en/ref/118682}

Hukum Meyakini Bahwa Sebagian Syariat Islam Sudah Tidak Lagi Sesuai dengan Perkembangan Zaman

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:49 am

Soal:

Ada seorang pria yang mengatakan bahwa beberapa hukum syariat perlu di uji lagi dan dirubah karena sudah tidak lagi sesuai dengan zaman ini seperti bagian warisan seorang pria sama dengan bagian warisan dua orang wanita. Apa hukum terhadap orang yang berkata seperti ini?

 

Jawab:

Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala

Perlu dipahami bahwa salah satu prinsip dasar keimanan adalah berhukum kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam-, berserah diri terhadap hukum-hukum kedua-Nya serta ridha terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:

(فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا) النساء/59

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (59)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) النساء/65

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (65)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ) المائدة/50

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (50)

Maka seluruh hukum yang menyelisihi hukum Allah adalah hukum jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman:

(أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) التين/8

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (8)

Allah Ta’ala juga berfirman:

(إِنْ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ) يوسف/40

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (40)

Dengan ini maka nampak bahwasannya menolak berhukum kepada Allah -Jalla Sya’nuhu- dan Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam-, atau menolak hukum kedua-Nya atau meyakini bahwasannya berhukum dengan hukum selain keduanya adalah lebih baik maka ini adalah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Syaikh Ibnu Bazz -rahimahullah- berkata:

“Hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah terhadap para hamba-Nya di dalam Al-Quran atau melalui lisan Rasul-Nya Al-Amin -shallallahu’alayhiwasallam- seperti hukum-hukum waris, shalat lia waktu, zakat, puasa dan yang semacam itu yang telah Allah jelaskan kepada para hamba-Nya dan umat telah bersepakat atasnya maka tidak boleh bagi seorang pun menolaknya dan tidak pula merubahnya karena pensyariatan telah ditetapkan kepada umat sejak di zaman Nabi -shallallahu’alayhiwasallam- dan setelahnya sampai hari kiamat. Diantara ketetapan tersebut adalah: pemberian waris kepada laki-laki lebih besar daripada wanita dalam hal waris di kalangan anak begitu juga dengan cucu dari anak laki-laki, saudara kandung laki-laki seayah-seibu dan saudara kandung laki-laki seayah, karena Allah telah menjelaskan di dalam kitab-Nya [Al-Quran-ed] juga kaum muslimin telah bersepakat diatasnya, maka yang wajib bagi kita adalah mengamalkannya, meyakini dan beriman kepadanya. Siapa saja yang mengklaim bahwasannya hukum yang menyelisihinya adalah lebih baik maka dia kafir dan begitu juga yang membolehkan untuk menyelisihi hukum islam maka dia juga kafir karena dia menolak hukum Allah dan Rasul-Nya juga menentang kesepakatan umat. Maka hendaknya para penguasa yang bersangkutan memintanya untuk bertaubat jika dia seorang muslim jika dia bertaubat maka itu bagus jika tidak mau bertaubat maka waib untuk membunuhnya karena dia telah kafir, murtad dari Islam karena Nabi -shallallahu’alayhiwasallam- telah bersabda: (من بدل دينه فاقتلوه)”Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia”. Kami memohon kepada Allah agar menjaga kami dan kaum muslimin seluruhnya dari kesesatan, fitnah-fitnah dan menyelisihi syariat yang suci”

{Majmu’ Al-Fatawa Ibni Baazz, 4:415}.

 

Diterjemahkan dari http://www.islamqa.com

Klik untuk membaca artikel bahasa Arabnya disini: KLIK

Klik untuk membaca artikel bahasa Inggrisnya disini: KLIK

 

حكم الاعتراض على الأحكام الشرعية التي شرعها الله

In Aqidah on Januari 2, 2011 at 3:47 am

السؤال : رجل يقول : إن بعض الأحكام الشرعية تحتاج إلى إعادة نظر وأنها بحاجة إلى تعديل ، لكونها لا تناسب هذا العصر ، مثال ذلك الميراث للذكر مثل حظ الأنثيين . فما حكم الشرع في مثل من يقول هذا الكلام ؟

الجواب :
الحمد لله
يجب أن يعلم أن من أصول الإيمان التحاكم إلى الله تعالى ، ورسوله صلى الله عليه وسلم ، والتسليم لحكمهما ، والرضا به ، قال الله تعالى : (فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا) النساء/59 .
وقال تعالى : (فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) النساء/65 .
وقال تعالى : (أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ) المائدة/50 .
فكل حكم خالف حكم الله فهو حكم جاهلية ، وقال الله تعالى : (أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) التين/8.
وقال تعالى : (إِنْ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ) يوسف/40 .
وبهذا يظهر أن رفض التحاكم إلى الله جل شأنه وإلى الرسول صلى الله عليه وسلم ، أو رفض حكمهما ، أو اعتقاد أن حكم غيرهما أحسن من حكمهما ، كفر وخروج من الإسلام .
قال الشيخ ابن باز رحمه الله :
“الأحكام التي شرعها الله لعباده وبينها في كتابه الكريم ، أو على لسان رسوله الأمين عليه من ربه أفضل الصلاة والتسليم ، كأحكام المواريث والصلوات الخمس والزكاة والصيام ونحو ذلك مما أوضحه الله لعباده وأجمعت عليه الأمة ، ليس لأحد الاعتراض عليها ولا تغييرها ، لأنه تشريع محكم للأمة في زمان النبي صلى الله عليه وسلم ، وبعده إلى قيام الساعة ، ومن ذلك : تفضيل الذكر على الأنثى من الأولاد ، وأولاد البنين ، والإخوة للأبوين وللأب ، لأن الله سبحانه قد أوضحه في كتابه وأجمع عليه علماء المسلمين ، فالواجب العمل بذلك عن اعتقاد وإيمان ، ومن زعم أن الأصلح خلافه فهو كافر ، وهكذا من أجاز مخالفته يعتبر كافراً ؛ لأنه معترض على الله سبحانه وعلى رسوله صلى الله عليه وسلم وعلى إجماع الأمة ؛ وعلى ولي الأمر أن يستتيبه إن كان مسلماً ، فإن تاب وإلا وجب قتله كافراً مرتداً عن الإسلام ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : (من بدل دينه فاقتلوه) ، نسأل الله لنا ولجميع المسلين العافية من مضلات الفتن ومن مخالفة الشرع المطهر” انتهى .
“مجموع فتاوى ابن باز” (4/415) .

الإسلام سؤال وجواب {http://islamqa.com/ar/ref/118682}

The Ahaadeeth About The Mahdi And The Descent Of ‘Eesa (peace be upon him) Are Not A Reason To Stop Striving

In Aqidah, Uncategorized on Januari 1, 2011 at 11:29 am

Some people take the ahaadeeth about the Mahdi and the descent of ‘Eesa (peace be upon him) as a reason to stop striving for Islam, so they sit and wait for the emergence of the Mahdi or the descent of ‘Eesa, so that Islam and the Muslims will rise once again. What is your opinion of this understanding?.

Praise be to Allaah.This miserable situation in which the Muslim ummah is today is one that is disgraceful, and every Muslim is responsible for setting things straight. But some Muslims fail to strive, relying on hope and avoiding doing anything to set the ummah’s situation straight, on the grounds that it was caused by those who came before us and will be set right by those who come after us. So they fail to strive to support the religion of Allaah, on the basis that the Mahdi is the one who will do that. 

This is resorting to hope without implementing the means that are prescribed in Islam. Allaah says (interpretation of the meaning):

“It will not be in accordance with your desires (Muslims), nor those of the people of the Scripture (Jews and Christians), whosoever works evil, will have the recompense thereof, and he will not find any protector or helper besides Allaah”

[al-Nisa’ 4:123]

This negativity from which some Muslims are suffering nowadays is not something that could be prescribed by the Islamic texts, rather it is a misunderstanding, incapability and laziness, and an evasion of responsibility.

Allaah has commanded the Muslims to strive for this religion and to call people to it, to debate with the kuffaar and invite them to Islam with wisdom and beautiful preaching, and to fight them until there is no longer any shirk on earth. Allaah says (Interpretation of the meaning):

“And fight them until there is no more Fitnah (disbelief and polytheism, i.e. worshipping others besides Allaah), and the religion (worship) will all be for Allaah Alone [in the whole of the world]. But if they cease (worshipping others besides Allaah), then certainly, Allaah is All-Seer of what they do”

[al-Anfaal 8:39]

Ibn Katheer (may Allaah have mercy on him) said:

Here Allaah commands us to fight the kuffaar “until there is no more Fitnah” i.e., shirk, “and the religion (worship) will all be for Allaah alone” i.e., the religion of Allaah will be the one that prevails over all other religions. End quote.

This command is not specific to any particular time or place, rather the Muslims at all times and in all places are commanded to do this. Undoubtedly striving for Islam and supporting it on earth require the Muslims to work hard, strive hard and implement all means that will lead to that.

Some people misunderstand the ahaadeeth which speak of the emergence of the Mahdi or the descent of the Messiah ‘Eesa ibn Maryam (peace be upon him) and they become apathetic, and they sit waiting for the emergence of the Mahdi or the descent of the Messiah, and they stop calling people to Allaah and striving to make the word of Allaah supreme. But Allaah, may He be exalted, and His Messenger (peace and blessings of Allaah be upon him) have commanded us to implement the means and strive on this earth.

Allaah says (interpretation of the meaning):

“O you who believe! Take your precautions, and either go forth (on an expedition) in parties, or go forth all together”

[al-Nisa’ 4:71]

“And make ready against them all you can of power, including steeds of war (tanks, planes, missiles, artillery) to threaten the enemy of Allaah and your enemy”

[al-Anfaal 8:60]

“He it is Who has made the earth subservient to you (i.e. easy for you to walk, to live and to do agriculture on it); so walk in the path thereof and eat of His provision. And to Him will be the Resurrection”

[al-Mulk 67:15]

“and for this let (all) those strive who want to strive (i.e. hasten earnestly to the obedience of Allaah)”

[al-Mutaffifeen 83:26]

“For the like of this let the workers work”

[al-Saaffaat 37:61]

“And whoever desires the Hereafter and strives for it, with the necessary effort due for it (i.e. does righteous deeds of Allaah’s obedience) while he is a believer (in the Oneness of Allaah Islamic Monotheism) — then such are the ones whose striving shall be appreciated, (thanked and rewarded by Allaah)”
[al-Isra’ 17:19]

“And take a provision (with you) for the journey, but the best provision is At-Taqwa (piety, righteousness)”

[al-Baqarah 2:197]

The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) used to make preparations for everything, drawing up a plan, as happened during the hijrah, when he prepared mounts and a guide, and chose a traveling-companion, and he decided on a place to hide until the pursuit had cooled down, and he shrouded all of that in secrecy. This is how he acted in all his campaigns, and this is how he trained his noble companions. They used to prepare themselves with all kinds of weapons. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) entered Makkah with his helmet on his head, although Allaah had said (interpretation of the meaning):

“Allaah will protect you from mankind”

[al-Maa’idah 5:67]

And when he traveled for jihad or Hajj or ‘Umrah, he took his provisions with him.

The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Strive for that which will benefit you, and seek the help of Allaah, and do not be helpless.” Narrated by Muslim, 2664.

We can imagine what the fate of the da’wah and the ummah would have been if the previous generations had heeded the calls to give up until the Mahdi emerges. Would they have defeated the Tatars and crusaders, or conquered Constantinople?

This misunderstanding of the Islamic texts which speak about the Mahdi and the Messiah (peace be upon him) has been refuted by many scholars, daa’iyahs and writers.

Shaykh al-Albaani (may Allaah have mercy on him) said:

It is not permissible for the Muslims to ignore striving for Islam and the establishment of an Islamic state on earth, waiting for the emergence of the Mahdi and the descent of ‘Eesa (peace be upon them), out of despair or imagining that that is not possible before they come. This is a false notion and false despair. Allaah and His Messenger (peace and blessings of Allaah be upon him) did not tell us that Islam will not return or regain power on earth except at their time. It is possible to achieve that before they come, if the Muslims implement the means of doing that, because Allaah says (interpretation of the meaning):

“O you who believe! If you help (in the cause of) Allaah, He will help you, and make your foothold firm”

[Muhammad 47:7]

“Verily, Allaah will help those who help His (Cause)”

[al-Hajj 22:40]

With regard to the ahaadeeth which speak of the descent of ‘Eesa (peace be upon him) etc., it is obligatory to believe in them, and to refute those who think that they mean we should not strive, and to prepare to do whatever must be done at any time and in any place. End quote.

Professor ‘Abd al-‘Azeez Mustafa said:

Striving in jihad against the kuffaar, no matter who they are and no matter where they are and no matter in what time they are, is obligatory according to sharee’ah, and this has not been abrogated. This is an established Islamic truth. This jihad is obligatory if the conditions for it are met and if the guidelines and rulings concerning it apply. It is not one of these conditions, guidelines or rulings that jihad should be delayed until the prediction (about the Mahdi and the Messiah) is fulfilled, and this is not how the first Muslims understood it or acted. When they were told that Allaah would break the power of Chosroes with their swords, they did not hide in their houses waiting for that prediction to come true and for it to come to pass without them making any effort; rather they made preparations for that until victory came to pass. Thus the consequences of obeying the command of Allaah (i.e., to fight the kuffaar) coincided with the decree of Allaah (i.e., that their kingdom should be destroyed). But some Muslims nowadays say: No, jihad against the Jews should not happen until the Dajjaal appears. Perhaps this is part of the fitnah of the Dajjaal in this world.

This foolish notion has taken hold of some Muslim youth, and they have refused to take any responsibility with regard to al-Masjid al-Aqsa, the environs of which Allaah has blessed. An even more foolish notion has taken hold of them, which is that the Islamic state and the caliphate can never be established until the Mahdi emerges.

It is a very strange idea. By their actions it is as if they are saying to the Jews: Treat your enemies harshly, and saying to the Christians: Continue with your wrongdoing… and to the Muslims: Continue with your division and conflicts… until the Mahdi emerges. I do not know on what evidence they have fallen into this error and why they imagine that the Mahdi will emerge to people who are doing nothing or that apathetic people will support him.

We ask Allaah to bring the Muslims back to their religion.

And Allaah knows best.

See: al-Mahdi wa Fiqh Ashraat al-Saa’ah by Shaykh Muhammad ibn Isma’eel al-Muqaddim.

Islam Q&A {http://islamqa.com/en/ref/39187}

Hadits-Hadits tentang Imam Mahdi dan Turunnya Isa Bukanlah Alasan untuk Berhenti Berjuang

In Aqidah on Januari 1, 2011 at 11:27 am

Soal:

Sebagian manusia memahami hadits-hadits tentang Imam Mahdi dan Turunnya Isa Al-Masih bin Maryam -‘alaihissalaam- sebagai alasan untuk berhenti berjuang demi Islam. Lalu mereka hanya duduk dan menunggu keluarnya Imam Mahdi atau turunnya Al-Masih sampai Islam dan Kaum Muslimin menjadi mulia kembali. Apa pendapat anda terhadap pemahaman seperti ini?

Jawab:

Segala puji hanya bagi Allah

Sesungguhnya situasi menyedihkan yang terjadi di tengah-tengah umat muslim saat ini adalah sesuatu yang memalukan dan setiap muslim -seharusnya- bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaaan ini. Namun sebagian muslim malah meninggalkan perjuangan, mencukupkan diri dengan berharap dan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang bisa memperbaiki keadaan umat ini dengan beralasan bahwa kemunduran umat saat ini disebabkan oleh orang-orang yang datang sebelum kita dan akan diperbaiki nanti oleh orang-orang yang datang setelah kita. Lalu mereka berhenti berjuang untuk agama Allah dengan alasan bahwa Imam Mahdi lah yang akan melakukannya.

Sesungguhnya perbuatan ini hanyalah pelarian terhadap sebuah harapan dengan tanpa mau mengambil sebab-sebab yang disyariatkan. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيّاً وَلا نَصِيراً ) النساء/123.

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (123)

Perbuatan buruk [yakni tidak mau berjuang-ed] yang terjadi pada sebagian kaum muslimin saat ini tidaklah mungkin dituntunkan oleh nash-nash syariat tapi itu disebabkan oleh buruknya pemahaman, kelemahan, kemalasan dan menghindar dari tanggung jawab.

Allah Ta’ala telah memerintahkan umat muslim agar berjuang untuk agama ini dan berdakwah kepada manusia untuk Allah, mendebat orang-orang kafir dan berdakwah kepada mereka dengan hikmah dan nasehat yang baik juga memerangi mereka sampai tidak ada lagi kesyirikan diatas bumi ini. Allah Ta’ala berfirman:

( وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ) الأنفال-39.

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (39)

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata:

“Didalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang kafir ( حتى لا تكون فتنة ) “supaya jangan ada fitnah” yakni kesyirikan dan ( ويكون الدين لله ) “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” yakni agama Allah menjadi menang diatas seluruh agama yang lain”

Perintah dalam ayat ini tidaklah terbatas pada waktu tertentu bahkan seluruh muslim di setiap tempat dan waktu diperintahkan untuk melakukan hal ini.

Tidak diragukan lagi bahwa berjuang untuk Islam dan mendukungnya di atas muka bumi membutuhkan kerja keras kaum muslimin, perjuangan keras dan mengambil sebab-sebab  yang bisa mewujudkan hal itu.

Sebagian orang salah memahami hadits-hadits yang berbicara tentang kemunculan Imam Mahdi atau turunnya Al-Masih Isa bin Maryam -‘alaihissalaam- dan hanya berpasrah diri meninggalkan sebab-sebab dan hanya duduk-duduk menunggu munculnya Imam Mahdi atau turunnya Al-Masih dan meninggalkan berdakwah untuk Allah kepada manusia dan berjuang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Namun Allah dan Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam- telah memerintahkan untuk mengambil sebab-sebab dan berjuang di muka bumi untuk agama Allah.

Allah berfirman:

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً ) النساء/71

Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! (71)

Allah Ta’ala juga berfirman:

( وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ ) الأنفال/60

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. (60)

Allah ‘Azza Wa Jalla juga berfirman:

( هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ) الملك/15

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (15)

Allah Ta’ala juga berfirman:

( وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ ) المطففين/26

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

( لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ ) الصافات/61

Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” (61)

Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman:

( وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً ) الإسراء/19

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (19)

Allah Ta’ala juga berfirman:

( وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ) البقرة/197

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (197)

Rasulullah -shallallahu’alayhiwasallam- selalu mempersiapkan segala sesuatunya, menyusun rencana seperti yang terjadi saat hijrah ketika beliau mempersiapkan unta tunggangan dan seorang penunjuk jalan, memilih teman perjalanan dan memutuskan sebuah tempat untuk bersembunyi dari kejaran orang kafir quraisy sampai akhirnya pengejaran itu reda dan beliau menyimpan semua rencana itu secara rahasia. Ini juga yang beliau lakukan di seluruh peperangan beliau dan dengan cara inilah beliau mendidik para sahabat-sahabatnya yang mulia. Mereka selalu mempersiapkan dirinya dengan segala jenis senjata ketika bertemu musuh. Rasulullah -shalallahu’alayhiwasallam- masuk Mekah dengan menggunakan topi baja di kepalanya walaupun Allah Ta’ala telah berfirman:

( وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ) المائدة/67

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (67)

Dan ketika beliau pergi jauh [safar] untuk berjihad atau haji atau umrah, beliau juga membawa perbekalan.

Rasulullah -shallallahu’alayhiwasallam- bersabda:

( احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ ) رواه مسلم (2664)

“Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah.”

Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi terhadap nasib dakwah dan umat ini jika generasi pendahulu umat ini hanya memasrahkan diri saja menunggu kemunculan Imam Mahdi. Apakah mereka akan mampu untuk mengalahkan pasukan Tartar dan pasukan Salib atau menaklukan Konstantinopel?

Kesalahpahaman terhadap dalil-dalil yang berbicara tentang Imam Mahdi dan Isa Al-Masih telah dibantah oleh banyak Ulama, para Da’i dan para penulis.

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata:

“Tidak boleh bagi umat islam meninggalkan berjuang untuk agama Islam dan mendirikan negara islam di muka bumi dengan hanya menunggu kemunculan Imam Mahdi dan turunnya Isa -‘alaihissalaam- karena putus asa dan menyangka bahwa tidak mungkin melakukan hal-hal tersebut sebelum mereka berdua datang. Ini merupakan sangkaan yang salah dan keputusasaan. Padahal Allah Ta’ala atau Rasul-Nya -shallallahu’alayhiwasallam- tidak pernah memberitakan kepada kita bahwa Islam tidak akan kembali atau menjadi kuat lagi di muka bumi kecuali setelah kedatangan mereka. Malah boleh jadi umat ini menggapai kejayaannya kembali sebelum mereka berdua datang jika kaum muslimin melakukan sebab-sebab untuk mencapai hal tersebut karena Allah telah berfirman:

( إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ) محمد/7

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (7)

Allah juga telah berfirman:

( وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ) الحج/40

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. (40)

Sesungguhnya hadits-hadits yang berbicara tentang turunnya Isa -‘alayhissalam- dan lainnya yang  wajib bagi kita adalah beriman terhadap kabar tersebut dan membantah siapa saja yang berpikir bahwa hal tersebut berarti maksudnya kita tidak perlu berjuang dan mempersiapkan apa yang harus kita siapkan kapan pun dan dimana pun”

Profesor ‘Abdul ‘Aziz Musthafa berkata:

“Berjihad melawan orang-orang kafir, tidak masalah siapa mereka, dimana saja mereka dan kapan saja adalah wajib menurut syariat yang muhkam dan tidak dimansukh. Ini merupakan kebenaran yang telah tetap di dalam agama Islam. Jihad ini wajib dengan syarat-syaratnya, kaidah-kaidahnya dan hukum-hukumnya. Dan bukan termasuk syarat atau kaidah atau hukum jihad jika harus menunda sampai terealisasinya khabar gaib. Ini bukanlah pemahaman dan penerapan yang dilakukan oleh para pendahulu umat ini. Bahkan ketika Allah Ta’ala mengabaran kepada para sahabat Nabi -radhiyallahu’anhum- bahwa mereka akan menaklukan kerajaan Kisra dengan pedang-pedang mereka,  tidaklah mereka hanya bersembunyi di rumah-rumah mereka dan menunggu terealisasinya kabar tersebut dengan tanpa mengerahkan usaha tapi mereka membuat segala persiapan untuk mencapai hal tersebut sampai kemenangan mereka dapatkan. Jadi disini terjadi kecocokan antara perintah syariat dengan apa yang telah ditakdirkan Allah [yang telah diberitakan dalam khabar-ed]. Namun sebagian Muslim saat ini malah berkata:  Tidak ada jihad melawan Yahudi sampai Dajjal muncul. Bahkan mungkin bisa jadi ini  termasuk dari fitnah Dajjal itu sendiri di dunia.”

Pemahaman yang sakit ini telah menipu sebagian para pemuda Muslim dan mereka menolak untuk ikut ambil tanggung jawab berkenaan dengan Masjid Al-Aqsha dan sekitarnya yang telah Allah berkahi. Dan bahkan yang lebih bodohnya lagi adalah pemahaman bahwa negara Islam dan Khilafah tidak akan pernah berdri sampai munculnya Imam Mahdi.

Ini merupakan pemahaman yang ganjil, seakan-akan sama saja dengan mereka mengatakan melalui perbuatan mereka ini kepada orang-orang Yahudi: Teruslah bersikap keras kepada musuh-musuh kalian, dan berkata kepada orang Nasrani: lanjutkan kesewenang-wenangan kalian, dan berkata kepada orang-orang Islam: Lanjutkan perpecahan dan konflik yang terjadi diantara kalian sampai nanti munculnya Imam Mahdi. Saya tidak tahu dengan dalil apa mereka sampai jatuh kepada kesalahpahaman seperti ini dan kenapa mereka sampai bisa berpikir bahwa Imam Mahdi akan muncul untuk orang-orang yang hanya duduk-duduk saja atau menolong manusia-manusia yang apatis.

Kami meminta kepada Allah untuk mengembalikan kaum Muslimin kepada agama mereka.

Wallahua’lam

Lihat: Al-Mahdi Wa  Fiqhu Asyraathi As-Saa’ah karya Syaikh Muhammad bin Isma’il Al-Muqaddam.

 

Sumber: Diterjemahkan dari http://www.islamqa.com

Klik untuk membaca artikel bahasa Arabnya disini: KLIK

Klik untuk membaca artikel bahasa Inggrisnya disini: KLIK

 

أحاديث المهدي ونزول المسيح عليه السلام ليست مدعاة لترك العمل

In Aqidah, Uncategorized on Januari 1, 2011 at 11:23 am

بعض الناس يفهم من أحاديث المهدي أو نزول المسيح عيسى ابن مريم عليه السلام ، أنها مدعاة لترك العمل للإسلام ، فيجلس منتظراً خروج المهدي ، أو نزول المسيح حتى تعود العزة للإسلام والمسلمين ، فما رأيكم في هذا الفهم ؟.

الحمد لله

إن هذه الحال المزرية التي وصلت إليها الأمة الإسلامية اليوم ، حال يندى لها الجبين ، وكل المسلمين مسئول عن إصلاح هذا الوضع ، غير أن بعض المسلمين يعطل العمل ، اكتفاءً بالأمل ، ويهرب من إصلاح الواقع المرير للأمة بحجة أنه تسبب فيه من قبلنا ، وسيصلحه من بعدنا !! ويتوقف عن السعي للتمكين لدين الله ، بحجة أن المهدي هو الذي سيفعل .

إنه هروب إلى الأماني مع تعطيل الأسباب الشرعية ، والله تعالى يقول : ( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيّاً وَلا نَصِيراً ) النساء/123.

إن هذه السلبية التي يعاني منها بعض المسلمين اليوم ، لا يمكن للنصوص الشرعية أن تكون دالة عليها ، وإنما هو سوء الفهم ، والعجز والكسل ، والهروب من تحمل المسئولية .

فإن الله تعالى أمر المسلمين بالعمل لهذا الدين ، والدعوة إلى الله ، ومجادلة الكفار ودعوتهم بالحكمة والموعظة الحسنة ، وقتالهم حتى لا يكون شرك على الأرض ، قال الله تعالى : ( وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ) الأنفال-39.

قال ابن كثير رحمه الله :

” أمر تعالى بقتال الكفار ( حتى لا تكون فتنة ) أي شرك ( ويكون الدين لله ) أي يكون دين الله هو الظاهر على سائر الأديان ” انتهى .

وهذا الأمر ليس خاصاًًّ بزمان دون زمان ، بل المسلمون في كل زمان ومكان مأمورون بهذا .

ولا شك أن العمل للإسلام وتمكينه في الأرض يستلزم من المسلمين الاجتهاد والبذل والأخذ بالأسباب المؤدية إلى هذا .

وبعض الناس يسيء فهم هذه الأحاديث الواردة في خروج المهدي أو نزول المسيح عيسى ابن مريم عليه السلام فيتواكل ويترك العمل ويجلس منتظراً لخروج المهدي أو نزول المسيح فيترك الدعوة إلى الله … والعمل لإعلاء كلمة الله . وقد أمر الله تعالى ورسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بالأخذ بالأسباب والسعي في الأرض والعمل .

قال الله تعالى : ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعاً ) النساء/71 .

وقال سبحانه وتعالى : ( وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ ) الأنفال/60. وقال عز وجل : ( هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ) الملك/15. وقال تعالى : ( وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ ) المطففين/26. وقال سبحانه : ( لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ ) الصافات/61. وقال جل وعلا : ( وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً ) الإسراء/19. وقال تعالى : ( وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ) البقرة/197.

وكان رسول الله صَلَّى الله عَلَيْه وسَلَّم يعُدّ لكل أمر عدّته ، ويرسم له خطّته ، كما حدث في رحلة الهجرة فقد أعدّ الرواحل والدليل واختار الرّفيق ، وحدد مكان الاختفاء إلى أن يهدأ الطلب ، وأحاط ذلك كله بسياج من الكتمان ، وكذلك كانت سيرته في غزواته كلّها ، وعليه ربّى أصحابه الكرام ، فكانوا يلقون عدوّهم متحصنين بأنواع السلاح ، ودخل رسول الله صلى الله عليه وسلم مكّة والبيضة (الخوذة) على رأسه مع أن الله سبحانه وتعالى قال : ( وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ) المائدة/67. وكان إذا سافر في جهاد أو حجّ أو عمرة حمل الزاد والمزاد .

وقال صَلَّى الله عَلَيْه وسَلَّم : ( احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلا تَعْجَزْ ) رواه مسلم (2664) .

ولنا أن نتخيّل الحال التي كان يمكن أن يؤول إليها مصير الدعوة والأمة لو أن الأجيال السابقة أصغوا إلى نداءات الاستسلام حتى يخرج المهدي ، هل كانوا سيهزمون التتار والصليبين ويفتحون القسطنطينية ؟!

وهذا الفهم الخاطئ للنصوص الشرعية الواردة في شأن المهدي والمسيح عليه السلام قد تصدى له كثير من العلماء والدعاة والكتاب .

قال الشيخ الألباني رحمه الله :

” لا يجوز للمسلمين أن يتركوا العمل للإسلام ، وإقامة دولته على وجه الأرض انتظاراً منهم لخروج المهدي ، ونزول عيسى ـ عليهما السلام ، يأساً منهم أو توهماً أن ذلك غير ممكن قبلهما ، فإن هذا توهّم باطل ، ويأس عاطل ، فإن الله تعالى أو رسوله صلى الله عليه وسلم لم يخبرنا أن لا عودة للإسلام ولا سلطان له على وجه الأرض إلا في زمانهما ، فمن الجائز أن يتحقق ذلك قبلهما إذا أخذ المسلمون بالأسباب الموجبة لذلك ، لقوله تعالى : ( إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ) محمد/7 . وقوله : ( وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ) الحج/40 . . . . إن أحاديث نزول عيسى عليه السلام وغيرها ، الواجب فيها الإيمان بها ، وردّ ما توهّمه المتوهّمون منها من ترك العمل ، والاستعداد الذي يجب القيام به في كل زمان ومكان ..” انتهى .

وقال الأستاذ عبد العزيز مصطفى :

” جهاد الكفار أياً كانوا وأينما كانوا وفي أي زمان كانوا واجب بالشرع المحكم غير المنسوخ ، وهذه حقيقة إسلامية ثابتة ، وهذا الجهاد واجب بشروطه ، وضوابطه وأحكامه ، وليس من هذه الشروط أو الضوابط أو الأحكام أن يؤخر الجهاد انتظاراً لتحول الغيب إلى شهادة ، ما هكذا فهم المسلمون الأوائل ، وما هكذا فعلوا ، بل إنهم لما أُخبروا بأن الله تعالى سيكسر مُلك كسرى بسيوفهم ما قبعوا في البيوت ينتظرون تحقق الخبر ، ووقوع الأمر بلا مقدمات يبذلونها ، وجهود يقدمونها ، لا ، بل أعدوا للأمر عُدّته وأخذوا للشأن أهبته ، حتى وقع النصر ، وتطابق أمر الشرع مع أمر القدر … أما بعض مسلمي اليوم فيقولون : لا .. إن جهاد اليهود لن يكون حتى يخرج الدجال . . ولعل هذا من جملة فِتن الدجال في هذه الدنيا .

وانطلى هذا الكلام السخيف على قطاعات من الشباب المسلم ، فألقوا عن كواهلهم تحمل أية مسؤولية تجاه المسجد الأقصى الذي بارك الله حوله ، تماماً كما انطلى على كثير منهم من قبل كلام أسخف منه ، مؤداه أن الدولة الإسلامية والخلافة لن تقوم حتى يخرج المهدي !!

وعجباً لمروجي هذا الكلام ومردديه ، كأنهم يقولون بلسان حالهم لليهود : اشتدوا في عدائكم .. وللنصارى استمروا في طغيانكم .. وللمسلمين استمروا في تشتتكم وتفرقكم وتنازعكم وغثائكم ، حتى يخرج المهدي إليكم ، ولا أدري : بأية حجج وأدلة يقعون في هذه الزلّة ، متوهمين أن المهدي سيخرج إلى قوم قاعدين أو سينصره أناس خاملون” انتهى .

نسأل الله تعالى أن يرد المسلمين إلى دينهم رداًّ جميلاً .

والله تعالى أعلم .

انظر : “المهدي وفقه أشراط الساعة” للشيخ محمد بن إسماعيل المقدم .

{http://islamqa.com/ar/ref/39187} الإسلام سؤال وجواب
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.